Pusako Tinggi
Pusako Tinggi
Udara kamar sudah terasa panas karena mentari sudah menampakkan sinarnya yang terang benderang. Jendela kamar yang masih tertutup sehingga tiada sirkulasi udara ke kamar. Ujang, masih juga belum bangkit dari tempat tidurnya.
Baginya tempat tidur adalah tempat untuk menghabiskan waktu sepanjang hari dan ia baru akan bangkit dari tempat tidur ketika senja akan tiba. Karena senja akan membuka pikirannya untuk memulai kegiatan untuk mencari uang. Baginya tidak penting uang itu halal ataupun haram.
Kebiasaan yang dilakukannya jika malam tiba yaitu mencuri ternak warga seperti ayam, kambing, ataupun itik milik warga kampungnya. Dalam menjalankan aksinya, ia tidak sendiri melainkan dibantu oleh sahabat kecilnya yang satu profesi bernama Jurai. Jika Jurai sudah tiba di rumah, mereka akan pergi ke warung kopi.
Sambil menyeruput kopi yang sudah dipesan, Ujang dan Jurai mendiskusikan ternak siapa yang akan menjadi sasarannya malam ini.
"Kemana kita akan beraksi malam ini, Rai?" tanya Ujang.
"Tampaknya kita sedang diintai-intai oleh masyarakat, Jang. Saya dengar kemaren kepala kampung mengingatkan keoada seluruh masyarakat supaya meningkatkan kewaspadaan untuk menjaga ternak setiap malam," jawab Jurai.
"Kalau begitu dari mana kita bisa mendapatkan uang, Rai?"
Jurai diam sejenak dan berfikir, memutar otak untuk menjawab pertanyaan Ujang.
Lalu dengan semangat yang menggebu-gebu, Jurai mengajukan usul kepada Ujang.
"Nah.... saya memiliki ide cemerlang, kamu jual saja tanah milik ibu mu. Pasti akan langsung kaya!" Jurai mengusulkan dengan semangat.
"Ibu saya tidak meiliki tanah, apa yang akan saya jual?" Tanya Ujang.
"Jangan jadi bodoh kamu, tanah ibu mu memang tidak ada tetapi kan tanah milik suku mu banyak," jawab Jurai.
"Maksud kamu yang mana?" Tanya Ujang.
"Kan ada tanah yang di Tanjuang," jawab Jurai
"Apa maksud mu, itu kan tanah pusako tinggi, mana bisa dijual," jawab Ujang.
"Yang penting oleh mu sekarang uang, kalau tanahnya sudah terjual, kamu bisa mendapatkan uang. Sesudahnya kamu bisa menjadi kaya-raya," jawab Jurai.
"Wah...ternyata kamu pintar juga ya, ini usul yang cemerlang," jawab Ujang.
Semenjak itu, Ujang dengan dibantu Jurai sibuk menjual tanah di Tanjuang kepada makelar tanah. Tanpa diketahui oleh ibu dan saudara-saudara Ujang. Akhirnya tanah terjual dan Ujang menerima uang hasil penjualan tanah sebanyak Rp. 532 juta. Setelah itu, Jurai yang banyak membantu diberi hadiah oleh Ujang 10 juta rupiah.
Karena sekarang Ujang sudah menjadi lelaki yang kaya raya, Ujang pergi merantau ke Padang. Di Padang Ujang membeli rumah. Ujang menikah dengan seorang wanita yang baru dikenalnya di sebuah warung tempat ia sering sarapan.
Di Padang, Ujang tidak memiliki pekerjaan. Ia hidup dengan menghabiskan uang hasil penjualan tanah dan sehari-hari ia hanya bermain judi online. Lama-kelamaan uang Ujang habis karena selalu kalah judi. Ia selalu bertengkar dengan istrinya. Akhirnya istri Ujang pergi meninggalkannya.
Karena kehabisan uang, Ujang berhutang ke sana ke mari. Bahkan untuk makan sehari-hari, ia berhutang kepada pemilik warung. Dan rumah tempat Ujang tinggal bersama istrinya dulu, kini telah dijual oleh istrinya.
Ujang menjadi frustrasi. Ia tidur di emperan toko. Jikalau sudah siang, Ujang diusir oleh pemilik toko. Untuk mencari uang, Ujang mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual. Ujang baru merasakan betapa sulitnya untuk mencari uang yang halal. Setiap hari, Ujang harus merasakan terik nya jalanan di siang hari dan dinginnya malam yang menusuk ke tulang.
Tentu hasil dari memulung tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ujang hanya bisa makan sekali dua hari dengan hasil memulung. Terkadang Ujang mengais-ngais sampah untuk mendapatkan makanan sisa. Setelah tiga tahun bekerja menjadi pemulung. Pada suatu hari Ujang berperilaku aneh, di hari itu ia mengambil ember bekas dan mengisi ember tersebut dengan tanah. Ujang menawarkan ke setiap rumah sambil berkata,
"Kakak...Ibu...siapa yang akan membeli tanah? Saya menjual tanah..."
"Pak...belilah tanah ini...saya akan pergi ke Mekah!"
Tetapi setiap orang yang ia tawarkan, berlari menjauhi Ujang. Terjadang Ujang merasa sedih, di lain waktu ia tertawa terkekeh-kekeh. Tiap hari ia terus menawarkan tanahnya tetapi tiada seorang pun membelinya. Anak-anak yang sedang bermain di lapangan sering mengusili Ujang, seperti diberi minuman dari air got, dilempar kerikil, ditendang dan dicaci-maki oleh anak-anak tersebut. Dari hari ke hari, hidup Ujang semakin mengenaskan. Badannya tidak terurus, pakaiannya cabik, dan rambutnya menggimbal.
Oleh : Ivana Putri Nandy Pinto. IX.8 Tahfidz

Komentar
Posting Komentar