Lestari Budaya
Lestari Budaya
Di bawah sinar matahari yang terik ada seorang wanita paruh baya yang sedang terlihat mencari seseorang. Wanita tersebut menoleh ke kanan dan ke kiri mencari putri tunggalnya yang beberapa menit lalu menelponnya agar segera di jemput.
Wanita tersebut bergumam “Kemana anak itu? Tadi suruh aku segera jemput, sudah banyak anak-anak yang keluar gerbang tapi dia? Sampai sekarang masih ndak nampak batang hidung nya.”
Wanita tersebut masih terus mencari hingga netranya menangkap seorang gadis ber rok dongker melambaikan tangan padanya.
“Ahh, itu dia.” kata wanita paruh baya tersebut sambil melambaikan tangannya dan mengisyaratkan kepada anak itu agar bergegas menuju dirinya.
Anak yang di isyaratkan pun mengerti dan bergegas berlari menuju ibunya yang berada di atas motor yang sudah di starter itu.
“Bundo! Sudah lama Bundo menunggu Thania?” tanya Thania pada wanita di depannya.
“Iyo, Bundo hampir ketiduran nunggu kamu. Tadi kamu suruh Bundo cepat jemput, ehh taunya malah kamu yang lelet.” ucap wanita itu sambil menepuk jidatnya dan menggeleng dramatis.
“Hehehe, maaf Bundo Thania tadi dicariin teman Thania Bundo.” ucapnya sambil menaiki motor dan ibunya mulai melajukan motor tersebut.
“Ngapain teman kamu nyariin?” tanya Bundo pada Thania.
“Mau kasih Thania formulir pendaftaran kegiatan ekstrakurikuler Bundo, katanya harus ikut salah satu ekskul nya minimal satu ekskul, tapi Thania bingung mau ikut apa Bundo.” tutur Thania sambil mencebikkan bibir lucu.
“Oalah, nanti saja lah kita bahas ya, Bundo mau beli bahan makanan dulu, habis semua soalnya.” tutur Bundo sambil menghentikan motor di salah satu warung sembako di sebelah gang rumah nya.
Bundo turun dan menyuruh Thania untuk tetap di motor saja dan dia saja yang membeli bahan-bahannya. Selesai memilih dan mencari bahan apa saja yang di butuhkan bundo mulai menuju ke tempat pembayaran untuk membayar bahan-bahan yang di belinya. Bundo dan Thania sampai dirumah sehabis membeli bahan-bahan makanan. Thania langsung menuju kamarnya untuk mengganti baju, agar leluasa saat menolong Bundo nya yang akan memasak makan malam.
“Thania, sudah selesai nak? Bundo mau mulai masak nanti Ayah mu pulang pasti lapar, ehh waktu buka tudung saji malah ndak ada apa apa.”
Thania bergegas menuju dapur setelah mengganti bajunya. “Sudah Bundo, ayo kita masak Bundo.”
Selesai memasak pasti diakhiri dengan mencuci piring dan disinilah Thania sekarang sedang mencuci piring kotor yang di gunakan untuk memasak tadi. Setelah selesai mencuci piring dan dirasa sudah bisa beristirahat Thania menuju ruang keluarga dimana Bundo nya sedang menonton sekarang.
“Bundo, Thania sudah selesai. Thania mau lanjut membahas yang tadi boleh kan Bundo?” tanya Thania yang ingat bahwa obrolannya dengan bundo tadi sempat terpotong.
“Iya, boleh.” Jawab Bundo.
Thania mengangguk dan mulai angkat suara “Kira-Kira ekskul apa ya Bundo yang bagus untuk Thania ikuti?” tanya Thania sambil memperhatikan formulir pendaftaran ekskul tersebut yang menjabar kan ekskul-ekskul apa saja yang ada.
“Memangnya ada apa saja?” tanya Bundo yang ikut memperhatikan secarik kertas yang ada di tangan Thania.
“Ikut nari saja Than, sekalian nambah wawasan tentang tarian daerah kita, siapa tau Thania nanti bisa melestarikan tarian daerah kita.” Tutur Bundo bersemangat.
“Ndak ah Bundo, Thania ndak suka menarikan tarian daerah, lebih suka dance-dance artis korea gitu lho, Bundo.” Ucap Thania tak kalah semangat menceritakan tentang kesukaannya.
“Dari pada menari tarian yang bukan asal budaya kita, lebih bagus menari tarian adat kita saja. Masa kita lebih cinta budaya orang luar daripada budaya kita? Rugi dong.” Tutur Bundo Panjang lebar.
Thania mengangguk dan berpikir sejenak tentang yang di bilang bundonya, ada benar nya juga dia seharusnya mencintai budayanya bukan budaya asing luaran sana.
“Oke bundo. Thania ikut tari saja kalau gitu.”
Lalu, tania mengisi formulir tersebut dan di serahkan kepada Bundo untuk di tanda tangani. Keesokan harinya Thania sekolah dan mengumpulkan formulir tersebut kepada temannya, sebelum pulang sekolah ia di suruh berkumpul dengan anggota ekskul yang lain untuk mendengarkan informasi dari pembina ekskul nya. Setelah selesai, seperti biasa Bundo pasti sudah menunggunya di depan gerbang.
“Bundo! Thania sudah masuk ekskul tari bundo, dan latihannya besok di aula sekolah. Jadi besok Bundo jemput Thania telat aja.”
Bundo mengangguk paham. “Yasudah, ayo naik!”
Bel sekolah berbunyi menandakan pembelajaran telah selesai, Thania segera bergegas menuju aula sekolah untuk melaksanakan kegiatan ekskulnya seperti yang sudah di informasikan oleh pembinanya.
“Baiklah anak anak, mohon perhatiannya! Saya pembina kalian yang akan mengajari kalian tarian asal daerah, kita mulai dari Tari Piring asal Minangkabau dulu ya.” Tutur pembina kepada semua anggota.
Pembina mulai mengajarkan langkah demi langkah Gerakan tarinya agar anak-anak bisa memperhatikannya dengan seksama. “Aihhh, itu pasti sulit orang piringnya di balik balik gitu. Kalau jatuh gimana ya itu?” gumam Thania yang tampak ragu untuk mencoba Gerakan seperti yang di ajarkan pembinanya.
“Baiklah sekarang giliran Thania, coba kamu praktikkan seperti yang ibu ajarkan tadi!”
Thania mengangguk walau ragu ia tetap mencoba. Dan, benar saja baru beberapa Gerakan Thania sudah banyak salah dan ditegur oleh pembinanya. Thania merasa semangat nya yang beberapa waktu lalu pupus karena, latihan tari yang ia lakukan tidak seperti yang ia harapkan. Ia berharap kalo ia bisa menguasai Gerakan nya dengan mudah ternyata ia salah besar, tidak semudah yang ia bayangkan.
“Baiklah anak-anak kita istirahat dulu.” Instruksi pembina.
“Baik, ibu.” Sorak seluruh anak-anak.
Thania haus, ia ingin minum dan saat melihat isi botol minumnya tak ada air yang tersisa, alhasil ia harus pergi ke kantin untuk pergi membeli minum. Sesampainya di kantin, ia bertemu dua orang teman kelas nya, dan ia menyapa
“Riva,Vanya!” soraknya.
“Ehhh, Thania habis ekskul ya?” tanya Vanya.
“Iya. Aku sedang ekskul sebenarnya, cuma lagi dikasih waktu istirahat aja.” Tutur Thania sambil menenggak air putih yang ia beli.
“Oalah, ikut ekskul apa Than?” tanya Riva.
“Tari” jawab Thania singkat.
“Ouu, emang betah ya? Ikut ekskul tari daerah kuno banget ndak sih? Mending ekskul band kayak kita lebih hits.” Ucap Diva sombong.
“Mana ada kuno, malahan dengan ikut ini kita jadi bisa lebih mencintai tanah air tau ndak?” jawab Thania tidak terima.
“Yaa, terserah.” Jawab Riva memutar bola mata malas.
“Bagaimana kalau kita buktikan di pentas seni nanti, grup ekskul mana yang paling banyak mendapatkan tepuk tangan adalah grup ekskul paling terbaik.” tantang Thania.
“Oke, siapa takut” jawab Riva semangat.
“Oke, aku duluan ya.” Ucap Thania dan berlalu pergi.
Semangat Thania yang awalnya pupus kini sudah kembali lagi, ia tidak terima saat Riva meremehkan budaya yang sudah dibangun oleh nenek moyang nenek moyang terdahulu yang harus nya di lestarikan malah di sepelekan seperti itu, mana mungkin terima dia?. Di sesi latihan tari berikut berikutnya ia pun berlatih sangat serius serta mengajak teman-temannya juga agar bisa menunjukkan kepada orang orang mengenai budaya budaya yang dianggap sepele itu. Tiba lah di hari H ia akan menampilkan tariannya bersama teman-temannya di pentas seni. Sebelum menampilkan tarinya ia meyakinkan dirinya dan teman-temannya bahwa pasti bisa melakukan yang terbaik.
“Kita pasti bisa, kita harus merubah pola pikir mereka yang memandang budaya adalah sesuatu yang kuno dan sepele. Ayo! Kita semua bisa, semangat!”.
Thania mendengar namanya di sorakkan oleh suara yang sangat di kenalinya.
“Thania!” sorak Bundo dari kursi penonton.
Thania menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Setelah tau dimana Bundonya duduk ia berlari kecil menuju Bundonya.
“Iya Bundo, ada apa?” tanya Thania penasaran kenapa Bundonya memanggilnya.
“Gapapa, Bundo hanya pengen lihat anak cantik Bundo dari dekat saja. Bundo minta Thania lakukan yang terbaik oke? Jangan pikirkan komentar orang. Dan, jangan lupa tersenyum karena saat menari kita memang baiknya tersenyum agar orang-orang melihat kita jadi bersemangat, oke?” jelas Bundo pada Thania.
“Oke Bundo.” Ucap Thania sambil mengacungkan dua jempolnya dan melihatkan deretan gigi rapinya.
“Kita ucapkan terima kasih kepada grup ekskul band kita. Selanjutnya penampilan dari grup ekskul tari daerah!” sorak pembawa acara memberitahukan.
“Itu kamu di panggil. Semangat ya!” ucap Bundo pada Thania dengan penuh semangat.
“Oke bundo. Thania akan tampil yang terbaik untuk Bundo.” Ucap Thania tak kalah semangat dan berlalu pergi ke belakan pentas dimana teman-temannya berada.
Thania dan teman-temannya naik ke pentas dengan percaya diri. Dan mulai mengambil posisi masing masing seperti yang sudah di latih sebelumnya. Alunan music pengiring tari mulai berbunyi pertanda mereka akan memulai tari. Gerakan demi Gerakan sudah mereka lakukan hingga…
“Brak!” salah satu teman Thania tersungkur karena lantai karena kaki nya terjerat karpet pentas. Dan mengenai teman-teman yang lain hingga merusak posisi mereka hingga tak beraturan. Tersisa Thania dan dua orang temannya di belakang yang tidak kena. Para penonton terkejut dan tertawa setelahnya.
Thania yang sadar akan temannya yang jatuh mulai membantu teman-temannya yang jatuh tersebut. Thani hendak mengantar salah satu temannya yang kaki nya keseleo ke uks. Akan tetapi, temannya yang dua orang yang sama sepertinya tidak terjatuh menahannya.
“Biar kami aja Than, kamu lanjutkan sendiri bisa kan? Karena, sepertinya yang lain tidak ingin melanjutkan. Sebab sudah malu, dan badannya juga sakit.” Ujarnya pada Thania.
“T-tapi? Bagaimana mungkin menarikan tarian yang seharusnya berkelompok sendiri?” Tanya Thania ragu.
“Ya, memang keliatan aneh tapi gapapa Than, karena ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa memperlihatkan kepada mereka budaya yang sangat unik dan penting untuk dilestarikan.” Ujar temannya Thania penuh semangat meyakinkan Thania.
“Baiklah, aku akan coba. Semoga aku bisa ya.” Ucap Thania dengan ragu.
Alunan musik kembali dimainkan, tapi kali ini berbeda tak ada teman-teman Thania hanya Thania seoran diatas pentas tersebut. Thania mulai menari dengan tenang dan mengingat kata kata Bundonya. Ia melakukannya seperti yang Bundonya katakan. Tapi Thania menyadari sesuatu kemana Bundonya? Kenapa tidak ada di kursi panggung? Hingga…
Mengejutkan! Bundonya keluar dari belakang pentas berjalan menuju tempat Thania berdiri seorang. Thania mengerjapkan matanya tak percaya. Bundo menari di sebelah nya dengan anggun dan lihai seperti yang ia lakukan sekarang.
“Bundo disini. Ayo! Kita tunjukkan pada mereka!” bisik Bundo yang hanya Thania yang bisa mendengar.
Thania tersenyum. Dan mengangguk mantap. Dia menari Bersama Bundonya dengan senang dan menampilkan yang terbaik. Penonton tercengang dan sorak sorai pun mulai terdengar, pertanda mereka menikmati penampilan seorang ibu dan anaknya diatas pentas tersebut. Penampilan Thania dan Bundo berakhir membuahkan banyak tepuk tangan.
Thania tersenyum simpul ia sangat senang karena berhasil menunjukkan penampilan yang baik. Ia memeluk Bundonya yang berada di sebelahnya. Bundo yang di peluk Thania pun juga membalas pelukannya.
“Terimakasih Bundo. Thania senang bisa menari Bersama Bundo. Thania saying Bundo.” Ucap Thania di ceruk leher Bundonya.
“Hahaha. Bundo juga saying Thania. Thania anak yang hebat! Bundo sangat bangga pada Thania” Ujar Bundo sambil tersenyum tipis.
OLEH: ZAKIYYA PUTRI AMIRA
Komentar
Posting Komentar